Akhlak mulia Rasullullah SAW


Untuk dihayati bersama . – semuga selepas membaca kerjasama dapat buat ulasan

Di antara mukjizat Rasulullah Muhammad SAW adalah mengalahkan musuh
dengan TAQWA dan KASIH SAYANG. Yahudi tewas oleh senjata TAQWA dan KASIH
SAYANG. Senjata ini lebih power dari nuklir dan lebih hebat dari segala
jenis teknologi di dunia ini.
Berikut ini salah satu contoh, bagaimana akhlak mulia yang lahir dari
taqwa dan kasih sayang Rasulullah itu telah berhasil menawan yahudi
hingga mati.

Disudut kota Madinah tinggal seorang orang tua Yahudi yang buta. Orang
Yahudi itu sangat membenci Rasulullah SAW. Kerana terlalu bencinya, dia
tidak sanggup mendengar nama Muhammad di sebut orang di sekelilingnya.
Telinga dan hatinya terasa sakit bila mendengar nama Muhammad disebut.
Sampailah cerita orang tua buta itu kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau
mendatangi rumah orang tua buta itu, tanpa memberitahu bahawa yang
datang itu adalah Muhammad SAW.
“Apakah yang boleh saya bantu, Pakcik?” tanya Rasulullah SAW.
“Setiap orang bercakap tentang Muhammad, tidak ada yang cakap buruk
tentang Muhammad, padahal aku begitu membencinya. Aku menderita
kerananya”
“Apakah yang boleh saya lakukan agar hati Pakcik lega ?”
“Aku tidak mau lagi mendengar nama Muhammad, bawalah aku pergi dari
sini. !”
“Kemana ?”
“Kemana saja ! Yang penting aku tidak mendengar lagi nama
Muhammad.”

Akhirnya Rasulullah mendukung orang tua buta itu. Orang tua buta itu
tidak tahu bahawa yang mendukungnya adalah orang yang paling dia benci.
Tibalah Rasulullah kesebuah tempat yang sunyi sepi, tidak ada satupun
penduduk yang tinggal disitu. Dengan penuh kasih sayang Rasulullah
menyediakan tempat untuk orang tua buta itu tinggal di daerah yang tidak
berpenghuni itu.
“Istirahatlah.” kata Rasulullah.

Orang tua buta itu lalu melepaskan penatnya, padahal seharusnya
Rasulullah yang beristirahat karena beliau telah mendukung orang tua
buta itu dangan menempuh perjalanan yang sangat jauh, setelah itu
menyediakan tempat untuk orang tua buta itu pula. Tapi karena tingginya
cinta Rasulullah kepada manusia sekalipun kepada yang membencinya,
beliau mampu melakukan semua itu.
“Bagaimana dengan keperluan harianmu ?” tanya Rasulullah
“Maksudmu ?”
“Misalnya keperluan makan-minummu.”
“Biarlah aku tidak makan dan mati disini daripada aku harus
mendengar nama Muhammad.”
“Kalau begitu, Insya Allah saya akan menghantar makanan untuk pakcik
setiap hari kemari.” kata Rasulullah.

Maka sejak saat itu, setiap hari Rasulullah datang untuk mengunjungi si
orang tua. Bukan hanya mengantarkan makanan, namun juga menyuapkannya,
bahkan Rasulullah memandikannya dan mengurus keperluannya yang lain.
Sampai pada saat Rasulullah sakit dan beliau merasa malaikat maut sudah
akan menjemputnya, beliau berpesan kepada Sayidina Abu Bakar.
“Wahai Sahabatku, ada seorang Yahudi buta yang hidupnya sendiri,
setiap hari aku mengunjunginya, dan jika ajalku tiba gantikanlah
tugasku,” ujar beliau.
Pada akhirnya ketika Rasulullah SAW wafat, Sy. Abu Bakarlah yang
mengurusi orang tua buta itu.
Ketika Sy. Abu Bakar menyuapkan makanan ke mulutnya, orang tua itu
menyadari jika yang mengurusnya telah berganti orang.
“Cara kau melayan tak sama macam sebelum ini” kata orang tua
buta itu.
“Bagaimana biasanya?” tanya Sy. Abu Bakar.
“Biasanya begitu lembut, namun sekarang agak kasar. Engkau orang
lain kah?” Sy. Abu Bakar agak terkejut karena beliau sudah berusaha
selembut mungkin, namun ternyata tetap tidak dapat menandingi kelembutan
Rasulullah.
“Ya, betul. Sebelum ini yang mengurus pakcik memang bukan saya.”
Ujar Sy. Abu Bakar.
“Benarkah? Lantas siapa yang membawaku kemari dan mengurus aku
selama ini ? Kemana dia ? Mengapa kau menggantikannya ?”
“Beliau sudah wafat.” Jawab Sy. Abu Bakar dengan sedihnya.
“Oh, menyesalnya aku, selama ini aku belum sempat berterima kasih
padanya,” ujar si orang tua buta itu sambil menangis.
“Beliau tidak memerlukan itu.”
“Ya, padahal pengorbanannya begitu besar padaku. Setiap hari
diuruskannya segala keperluanku, padahal dia bukan keluargaku, bukan
anakku, bukan cucuku. Dan aku tidak pernah menemukan orang selembut,
sebaik dan secantik dia peribadinya.”
“Tentu saja, dialah peribadi agung yang terbaik di kalangan makhluk
Tuhan, kami berusaha untuk mencontoh peribadinya.”
“Siapakah dia ?” tanya orang tua buta itu.
“Pakcik tak pernah tanya namanya?” tanya Sy. Abu Bakar hairan.
“Itulah, aku lupa, padahal dia sudah luar biasa baik padaku.”
“Dia adalah Muhammad.”
“Muhammad ?” orang tua buta itu terkejut, tubuhnya gementar.
“Muhammad yang membawa agama baru itu ?” tanyanya lagi tak
percaya.
“Iya.”
“Berarti Muhammad yang selama ini aku benci……” tangis orang
tua buta itupun pecah. Berjuta penyesalan memenuhi dadanya hingga ia
terasa sesak.
“Adakah manusia yang lebih baik daripada Muhammad ?” Tanyanya,
entah pada dirinya atau pada Sy. Abu Bakar.
“Aku telah membencinya dengan sepenuh hatiku karena dia membawa
agama baru, namun mengapa malah dia datang padaku dan berkhidmat padaku
? Bahkan dia selalu menghiburku sehingga kedatangannya kurindui.”
orang tua buta itu bercakap sambil menangis.
“Siapa namamu ?” tanya orang tua itu kepada Sy. Abu Bakar.
“Abu Bakar.”
“Saksikanlah wahai Abu Bakar, aku bersaksi bahwa tiada jenis Tuhan
selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah,” katanya
dengan penuh bersemangat.
Tiba-tiba orang tua buta itu terbatuk-batuk, tubuhnya
bergoncang-goncang, dadanya dia rasakan semakin sakit.
“Oh…benarlah agama yang dibawanya itu…benarlah risalah yang
disampaikannya itu…” katanya semakin perlahan. Tak kuat menahan
sakit orang tua buta itu merebahkan tubuhnya sambil terus memegang
dadanya.
“Aku telah membuat dosa besar, sudikah Tuhan mengampunkan aku?”
“Allah Maha Pengampun dan Muhammad selalu memaafkan orang sekalipun
orang itu belum meminta maaf.” Sahut Sy. Abu Bakar.
“Tapi kesalahanku sangatlah besar.”
“Seandainya kau tahu, rasa sesalku membuat seluruh tubuhku seperti
mau luluh lantak,” orang tua buta itu terbatuk-batuk lagi sampai
suara batuk yang semula keras itu lama-kelamaan menjadi mengecil dan
akhirnya hilang sama sekali.
Rupanya bersamaan dengan berhentinya batuk, berhenti pula nafasnya.
Orang tua buta itu akhirnya meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah
dan Muhammad Rasulullah SAW.
Yahudi tua yang sangat keras menentang Rasulullah itu akhirnya tewas
oleh ketaqwaan dan kasih sayang Rasulullah. Dia mati dalam Islam!

Mampukah kita meniru Rasulullah?

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: